Presiden Prabowo Subianto pada 7 Januari 2026 secara resmi mengumumkan Indonesia telah mencapai swasembada pangan saat kegiatan panen raya di Desa Kertamukti, Karawang, Jawa Barat.
Secara akademik, swasembada pangan tercapai apabila nisbah swasembada pangan (food self-sufficiency ratio/SSR) sama atau lebih besar dari satu, yang berarti produksi pangan suatu negara sama atau melebihi konsumsi dalam negeri. Ukuran lainnya adalah dietary energy production (DEP) per kapita. Jika produksi pangan melebihi 2.500 kilokalori (kcal) per kapita per hari, negara dinilai mencapai swasembada pangan.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, pangan didefinisikan sebagai segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia.
Data menunjukkan impor 12 komoditas pangan utama dengan volume lebih dari 100.000 ton per tahun—yakni gandum, kedelai, gula tebu, beras, jagung, daging sapi/kerbau, susu, bawang putih, ubi kayu, kacang tanah, kentang, dan bawang bombay—dalam 10 tahun terakhir meningkat dari 22,6 juta ton pada 2014 menjadi 34,4 juta ton pada 2024, berdasarkan Pusat Data dan Informasi Kementerian Pertanian.
Selama periode 2015–2024, produksi padi tercatat menurun rata-rata 1,04 persen per tahun. Meski demikian, Indonesia mencapai swasembada beras pada 2017, 2019, 2020, 2021, dan 2022. Di luar tahun tersebut, pemerintah melakukan impor beras umum untuk konsumsi masyarakat.
Pada 2025, produksi beras meningkat dari 30,62 juta ton pada 2024 menjadi 34,71 juta ton atau naik 13,36 persen, tertinggi kedua dalam 25 tahun terakhir. Produksi tertinggi sebelumnya tercatat pada 2016 sebesar 35,43 juta ton.
Penurunan impor pangan juga terjadi pada 2025. Data Januari–November menunjukkan impor turun dari 31,32 juta ton pada 2024 menjadi 25,29 juta ton, mendekati posisi 2022 sebesar 25,18 juta ton. Penurunan terbesar dipengaruhi tidak adanya impor beras umum pada 2025, meskipun impor beras khusus seperti japonica, basmati, dan menir untuk industri tetap berlangsung sekitar 300.000–400.000 ton per tahun.
Defisit neraca perdagangan komoditas pertanian tanpa perkebunan turun dari 17,11 miliar dolar AS menjadi 12,28 miliar dolar AS. Jika sektor perkebunan dimasukkan, surplus perdagangan meningkat dari 9,97 miliar dolar AS menjadi 20,02 miliar dolar AS hingga November 2025, didorong penurunan impor pangan dan kenaikan harga minyak nabati dunia.
Meski demikian, proporsi impor pangan Indonesia dinilai masih besar sehingga istilah swasembada pangan dianggap kurang tepat, walaupun terdapat perbaikan signifikan pada 2025.
Secara global, produksi serealia dunia pada 2025 meningkat 4,4 persen menjadi 2.989,6 juta ton, sedangkan produksi beras naik menjadi 556,4 juta ton. Rasio stok terhadap konsumsi meningkat dari 29,6 persen menjadi 31,1 persen. Indeks harga serealia sempat mencapai 112,6 pada Februari 2025 sebelum turun ke 103,6 pada Oktober 2025 dan naik tipis menjadi 107,3 pada Desember.
Produksi gandum dunia diproyeksikan naik 5,17 persen pada 2025/2026 menjadi 842,2 juta ton, sementara biji-bijian kasar meningkat 5,23 persen menjadi 1.590,6 juta ton. Produksi beras dunia relatif stabil di kisaran 541 juta ton.
Di dalam negeri, 2026 diperkirakan menjadi tahun penuh tantangan dengan potensi El Nino antara Maret hingga Mei 2026 dan menguat pada Juli–Agustus. Jika terjadi, produksi padi, jagung, dan tebu diperkirakan menurun, sedangkan hortikultura terutama buah-buahan berpotensi meningkat.
Sejumlah langkah dinilai perlu dilakukan untuk mengantisipasi kondisi tersebut, antara lain penguatan infrastruktur air melalui pompa dan sumur bor, peningkatan efektivitas subsidi pupuk dan distribusinya, pengembangan varietas padi baru untuk meningkatkan produktivitas, pengendalian hama dan penyakit tanaman, serta optimalisasi lahan rawa di Kalimantan dan Sumatera.
Produktivitas padi nasional tercatat relatif stagnan dalam 13 tahun terakhir, dari 5,10 ton gabah kering giling per hektar menjadi 5,13 ton per hektar pada 2025. Sejak 2000, produktivitas padi Indonesia juga telah dilampaui Vietnam yang berada di kisaran 6,0–6,2 ton per hektar.
Pemerintah dan petani diharapkan mampu menjaga peningkatan produksi dan menekan impor agar target swasembada dan kedaulatan pangan dapat terwujud secara berkelanjutan.
